Sosiologi sastra
Cerpan ‘Tamu’ karya Hamsad Rangkuti
Di analisis oleh:
Nama : Anju Arwani
(A1B114016)
Kelas
: 2/B Reguler
Np
Hp : 082306839310
Pendidikan
Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
PENDAHULUAN
Sosiologi sastra berasal dari kata
sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari kata sos (Yunani) yang berarti
bersama, bersatu, kawan, teman, dan logi (logos) berarti sabda, perkataan,
perumpamaan. Kemudian sastra dari akar kata sas (sanskerta) berarti
mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan intruksi. Akhiran Tra berarti
alat atau sarana. Merujuk dari definisi tersebut, keduanya memiliki objek yang
sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan
sastra sangat berbeda bahkan bertentangan secara dianetral.
Menurut KBBI sosiologi sastra
merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat dari atau
mengenai sastra karya para kritikus dan sejarawan yang terutama mengungkapkan
pengarang yang di pengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal,
ideology politik dan sosialnya, kondisi ekonomi dan khalayak yang di tujukan.
Sosiologi sastra tidak terlepas dari
manusia dan masyarakat yang bertumpu pada karya sastra sebagai objek yang di
bicarakan. Sosiologi sebagai suatu pendekatan terhadap karya sastra yang masih
mempertimbangkan karya sastra dan segi-segi sosial.
Endraswara dalam bukunya Metodologi
pengajaran Sastra, memberi pengertian bahwa sosiologi sastra adalah penelitian
yang terfokus pada masalah manusia karena sastra sering mengungkapkan
perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depannya,berdasarkan imajinasi,
perasaan, dan intuisi (2003: 76).
Sosiologi sastra dapat meneliti
melalui tiga perspektif, pertama, perspektif teks sastra, artinya peneliti
menganalisisnya sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya.
Kedua, perspektif biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang.
Perspektif ini akan berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan
sosial dan budayanya. Ketiga, perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis
penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.
PEMBAHASAN
Cerpan
‘Tamu’ karya Hamsad rangkuti adalah
cerpen yang di terbitkan oleh TEMU SASTRAWAN INDONESIA jambi 2008 dan Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dalam buku antalogi cerpan Senarai
Batanghari, didalam cerpen yang berjudul ‘Tamu’
ini mengkisahkan kehidupan sosiologi, tamu yang di ceritakan dalam cerpen
ini adalah kedatangan orang terhormat, yaitu bupati karanganyar Ibu Hj. Rina
Iriani, ke kawasan wisata lereng gunung Lawu, Lawu merupakan desa yang memiliki
berbagai macam keindahan budaya, keasrian alam, dan segala sumber daya alam
menjadi sumber mata pencaharian penduduk.
Buah
naga yang menjadi icon karanganyar banyak dibudidayakan di Lewu, masyarakat
setempat menanam tanaman buah naga sebagai tanaman perkebunannya, penjelasan
tersebut di perkuat dengan tanah yang dapat di tanami buah naga adalah dataran
tinggi, sekitaran gunung, dan beriklim sejuk.
Adapun
analisis sosiologi cerpen ini, dapat kita lihat dari sudut pandang sosial
pengarang, isi cerpen itu sendiri, dan sosial masyarakat yang di kenai dalam
cerpen.
1. Sosial
pengarang
Hamsad Rangkuti lahir di titikuning, Medan, Sumatera
Utara, 7 Mei 1943, Umur 71 tahun, ia merupakan sastrawan Indonesia yang menulis
cerita pendek yang telah banyak terkenal, nama asli sastrawan ini adalah Hasyim
Rangkuti.
Bersama lima saudaranya Hamsad
Rangkuti melewatkan masa kecilnya di kisaran asahan Sumatera Utara. Dia suka
menemani bapaknya, yang bekerja sebagai penjaga malam dan merangkap sebagai
guru ngaji, dan juga Hamsad membantu ibunya menjual buah di pasar, dan juga ia
menjadi buruh pencari ulat di perkebunan tembakau.
Kareana tak mampu berlangganan Koran
dan membeli buku, Hamsad rajin membeca Koran tempel di kantor wadana setempat.
Dari Koran-koran itulah ia berkenalan dengan karya-karya para pengarang
terkenal, seperti Anton Chekov, Ernest Hemingway, Maxi Gorki. O.Hendry, dan
Pramoedya ananta Toer.
Dilihat dari cerpen ini, Nampak
sekali bahwasanya kehidupan di sekitar pegunungan kental sekali di rasakan
pengarang, cerpen Tamu menceritakan tentang daerah pegunungan tepatnya di Lewu,
hal inilah yang berpengaruh kepada tempat latar cerpen ini di ceritakan.
Yang menjadi sangat bertolak belakan
adalah cerpen tamu ini menceritakan kehidupan sosial, pariwisata, budaya dan
politik kabupaten karanganyar, sedangkan ia lahir dan tinggal di daerah umatera
Utara, apa yang sebenarnya membuat pengarang mengarang cerpen ini dengan
mengisahkan kehidupan masyarakat daerah sekitaran karanganyar Jawa Tengah?
Mungkin karena ada pengalaman dengan daerah Lewu bagi pengarang, atau pengarang
mengisahkan dan membuat cerpen ini dari sebuah cerita salah satu warga
masyarakat karanganyar.
Dalam cerpen tamu mengisahkan
kehidupan sosial politik yang juga ada tergambar, mungkin pengarang termotivasi
untuk membuat cerpen ini karena sering membaca Koran-koran yang sarat dengan
berita politik.
2. Isi
cerpen sebagai cerminan masyarakat
Sebagai karya sastra, yang di dalamnya merupakan
cerminan dari kehidupan sosial masyarakat, yang membuat cerpen ini seperti
sebuah kejadian yang benar-benar terjadi tampa ada sebuh fiksi di dalamnya,
cerpen ‘Tamu´dalam analisis sosialnya
menceritakan kehidupan masyarakat Lewu
di lihat dari keindahan pariwisata yang di dukung oleh keasrian alam yang masih
terjaga,tepatnya di sekitar lereng pegunugan, kemudian budaya yang masih kental
membuat sebuah daya tarik yang menimbulkan ke khasan, yang menjadi titik utama
dalam cerpen ini adalah perkebunan masyarakat sekitar yang menanam buah naga,
yang merupakan ikon dari kabupaten karanganyar, karna itulah dalam cerpen ini
di ceritakan bupati karanganyar yang ingin berkunjung ke desa Lewu, ingin
melihat keindahan desa Lewu, dan ingin memetik buah naga secara langsung di
kebun masyarakat, kemudian ia juga ingin memasak buah naga tersebut yang di
petiknya. Di dalam cerpen ini juga di ceritakan adanya sebuah kesenjangan
antara orang yang berpangkat yang duduk di dalam pemerintahan, yang setidaknya
kita tahu bahwa kehidupan yang di rasakannya mempengaruhi prilakunya, walaupun
dia merupakan wakil rakyat yang menjadi lawan kesenjangannya, yaitu rakyat yang
di pimpinnya.
Dilihat dari budaya masyarakat setempat sangat
menjunjung tinggi adat-istiadat, kita dapat melihatnya dari penumbukan lesung
atas penyambutan kedatangan tamu orang-orang penting, Lesung ada sejarahnya
dari nenek moyang dahulu, kehidupan sosial dahulu telah tercermin dan menjadi
panutan dalam masyarakat Lewu sekarang, yang tidak dapat di tinggalkan lagi
karena telah mendarah daging, semuanya karena ada nya menghargai adat-istiadat
budaya yang talah ada sejak dahulu.
Perbedaan kehidupan sosial sangat jelas di
gambarakan, menggambarkan sebuah kehidupan sosial masyarakat desa yang mata
pencahariannya bergantung dengan alam, kegotong royongan yang kental, alam yang
asri,dan tempat penggambaran cerita di lereng gunung di sebuah pedesaan.
Kemudian dikaitkan dengan politik yang tergambar dari kedatangan para wakil
rakyat yang kehidupan sosialnya yang setiap saat membicarakan tentang politik,
pemerintahan, perkotaaan dll, pada saat mereka bertamu di desa lewu, maka
terbawa lah suasana cerita yang kebudaya-budayaan dengan ususr politik di
dalamnya.
3. Dampak
bagi masyarakat terhadap cerpen (pembaca)
Cerpen ini menggambarkan kehidupan alam, sosial, dan
politik yang di satukan menjadi padu dalam karya sastra cerpen, dengan berbagai
konflik yang tidak secara langsung menggambarkan ketegangan, namun konflik yang
terjadi seolah-olah bermain di belakang, maksudnya adalah, konflik yang
tergambar hanya di gambarkan melalui karakter jiwa tokoh, yang tidak sepaham
dengan tokoh yang lain.
Pembaca dapat mengambil sebuah inti
dari cerpen tersebut melalui karakter jiwa tokoh yang sangat tidak sejalan,
yang mana masyarakat lewu sangat menghargai dan menghormati atas kedatangan
bupati, namun bupati sendiri tidak terlalu melirik masyarakat disana, baginya
hanyalah menjadikan daerah tersebut menjadi tempat wisata yang banyak di
kunjungi, dan menjadikan ikon kabupaten karanganyar.
Cerpen ini menceritakan kepada
pembaca salah satu bentuk kepolitikan penguasa terhadap pariwisata di suatu
daerah, apa yang sebenarnya terjadi
terhadap kepedulian para wakil rakyat yang duduk di pemerintahan terhadap
masyarakat sebenarnya, dan cerpen ini juga menceritakan bahwasanya wakil rakyat
juga manusia biasa yang pastinya memiliki gaya hidup yang mengikuti kondisi
hidupnya, tidak bisa dipungkiri bahwa gaya hidup merupakan gengsi. Dalam cerpen
ini dimana di gambarkan seorang bupati yang bersikap sangat memperhatikan gaya
hidupnya, digambarkan seorang bupati yang cantik, modis, ibu-ibu pejabat yang
sosialita, yang memandang kehidupan di desa tidak sebanding dengannya, namun bupati
ini bisa mengambil hati masyarakat, sikap dan prilakunya berbeda sesuai dengan
kondisi, di depan masyarakat ia sangat professional, menunjukkan kewibawaannya,
dan dekat dengan rakyat.
Pembaca sebagai objek yang di kenai
dalam karya sastra dapat mengambil pelajaran dari isi yang terkandung dalam
karya sastra, cerpen tamu mengajarkan kepada kita bahwasanya sikap menghormati
adalah sebuah kebaikan, dan merupakan sebuah sikap yang mulia, apalagi
menghormati tamu. Bertamu juga dapat membuat seakraban, apalagi di dalam cerpen
Tamu ini, sang bupati berkunjung ke salah satu desa yang di urusnya, sangatlah
patut seorang bupati mendekatkan diri dengan rakyatnya, namun yang perlu di
ingat bahwasanya, tujuan kita bertamu tidak di dasari oleh niat jahat, bertamu
harus ikhlas, dan jangan bertamu karena Cuma ada sesuatu yang di anggap penting
semata.
PENUTUP
Kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa cerpen Tamu karya Hamsad Rangkuti menceritakan tentang kehidupan sosial
budaya yang di kaitkan dengan politik pemerintahan di daerah karanganyar, yang
memberikan gambaran kehidupan hubungan masyarakat dan wakil rakyat.
DAFTAR
PUSTAKA
Bahan ajar Teori Sastra Oleh EM.Yogiswara
sebagai dosen pengampu mata kuliah Teori Sastra.
Wkikipedia.com
(Biografi Hamsad Rangkuti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar