Kamis, 25 Juni 2015

Analisis Semiotik



Analisis semiotik Karya sastra Puisi ‘ Ditulang Belulang Yang Terlanjur Membeku’ Karya EM Yogiswara
Nama : Anju Arwani
NIM : A1B114016
Kelas : 2/B Reguler
Prodi : Pend. Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
No HP : 08983772493


BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
A.    Latar Belakang
Semiotik (semiotics) berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda atau sign. Tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif, mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat dipikirkan atau dibayangkan (Broadbent, 1980).
A.Teew (1984: 6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Menurut Pradopo (2005: 121), semiotik merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian masyarakat). Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti konvensional masyarakat. Teori semiotik tidak terlepas dari kode-kode untuk member makna terhadap tanda yang ada dalam karya sastra. Kode-kode merupakan objek semiotik sebab kode-kode itu merupakan sistem-sistem yang mengatasi dan menguasai pengirim dan penerima tanda atau manusia pada umumnya (Pradopo, 1995: 26).
Teori semiotik memperhatikan segala faktor yang ikut memainkan peranan dalam komunikasi, seperti faktor pengirim tanda, penerimaan tanda, dan struktur tanda itu sendiri. Berdasarkan penjelasan diatas diketahui karya sastra itu merupakan struktur bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa. Dalam usaha menangkap, memberi, dan memahami makna yang terkandung didalam karya sastra, pembacalah yang sangat berperan. Karya sastra tidak akan mempunyai makna tanpa ada pembaca yang memberikan makna kepadanya.

Perkembangan sastra sekarang ini sangat pesat dan keluar dari kaidah-kaidah penulisan yang ada. Banyak hal-hal baru yang muncul dan tidak sesuai dengan konvensi-konvensi.
Studi sastra bersifat semiotik merupakan usaha untuk menganalisis karya sastra, di sini sajak khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur sajak atau hubungan dalam (internal) antara unsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna.
Semiotik seperti yang diungkapkan oleh Rachmat Djoko Pradopo yaitu bahwa bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti. Medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik ataupun warna pada lukisan. Warna cat sebelum digunakan dalam lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian masyarakat (bahasa) atau ditentukan oleh konvensi-konvensi masyarakat. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat. Sistem ketandaan itu disebut dengan semiotik. Begitu pula ilmu yang mempelajari sistem tanda-tanda itu disebut semiotika (2009:121).



BAB II
PEMBAHASAN
‘ Ditulang Belulang Yang Terlanjur Membeku ‘ Karya EM yogiswara, adalah salah satu puisinya dari sekian puisi yang pada setiap puisinya ada kata tulangnya. Tidak tahu pasti mengapa beberapa puisinya menggunakan kata tulang, yang pasti kata tulang berkaitan dengan simbol-simbol kiasan dari pemaknaan sebuah puisi, dan juga merupakan ciri khas dari pengarangnya. Yang pasti sesuatu yang menurut pengarang menjadi simbol yang pas untuk mengungkapkan sesuatu, itu berarti memiliki makna yang sangat dalam, dan kadangkala berkaitan dengan pengalaman kehidupan.
Ditulang Belulang Yang Terlanjur Membeku
ia mengamuk pada badai
yang menyempurnakan derita
di titik putaran beliungnya
luka membeku
huruf-huruf berhamburan mencari nisan

nisan menanti nama. liang rindu tubuh
tapi lalai menyiapkan kafan dan wewangian
sebab perburuan waktu sibuk menyapu debu-debu
di tulang belulang yang terlanjur membatu

ia melukai tulang. setiap menit
tanpa sempat menutup lukanya

tangis mengejar air mata
seperti membangun kedewasaan
di titik retak sungainya rindu menari
mengakhiri kemelut detik

detik menusuk tulang
membagi sumsum hari
di tiap gemeretak ngilunya
nisan menanti

Ada sebuah keindahan yang mendasar di dalam puisi ini, kata tulang yang menjadi simbol sangat menarik untuk di kaji dari segi semiotik, menggambarka sebuah kehidupan yang tidak selamanya mulus, kehidupan menyuguhkan berbagai lika-liku yang tak selamanya baik, yang sebenarnya merupakan sebuah ujian dari yang maha kuasa, yang menghendaki manusia-manusia di muka bumi ini sadar akan arti sebuah kehidupan di dunia, seperti dalam bait pertama, badai di simbolkan sebuah bencana, dan dapat juga kita artikan sebuah kehidupan tidak ada yang selalu baik, pasti ada tantangan dan rintangan, penderitaan yang menghampiri, dan adakala rasa putus asa selalu ada di dalam benak, yang membuat manusia merasa tidak berarti di dalam hidup, merasa tidak ada keadilan di dalam hidup, dan merasa hidupnya selalu di rundung keburukan, maka dari itu simbol nisan di sini, mengungkapkan bahwa kehidupan memiliki akhir, namun akhir dari kehidupan tergantung manusia menyikapinya, jangan sampai akhir kehidupan manusia adalah akhir yang sia-sia.
Pada bait kedua semakin memperkuat arti dari kata tulang, kata tulang menjadi simbol bahwa manusia akan menghampiri maut, manusia akan menghadapi yang namanya kematian, bait kedua ini, menggambarkan kehidupan manusia yang dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini, sibuk dengan kegiatan duniawi, yang sebenarnya dunia hanya tempat persinggahan, namun manusia mengekalkan dunia, dunia adalah harta yang berharga, yang dapat melupakan manusia kan kehidupan akhir yang sebenarnya lebih fana.dalam bait ini kata kafan dan wewangaian menyimbolkan bahwa manusia kadang melupakan apa yang seharusnya di lakaukan atau bahkan di persiapkan, manusia lupa bahwasanya ia akan menghadapi kematian, kematian menuntut prilaku didunia, berbuat baik di dunia, maka baik pula keadaan di akhiratnya, maka dari itu, puisi bait kedua ini mengingatkan kepada pembaca, banhwasanya kita sebagai manuisa, siap-siap menghadpi kematian, jangan sampai pada waktunya, kita tidak memiliki persiapan apa-apa menghadapi alam selanjutnya.
Pada bait ketiga, yang pada akhirnya simbol dari tulang, lagi-lagi prilaku manusia yang selalu tidak sadar akan kesalahan-kesalahannya, perbuatan yang merugikan diri, tak sempat di sadari dalam diri, dikarenakan lupa bahwasanya ia belum sadar, dan bahkan ia tidak tahu kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya, itulah sifat yang kadangkala menghampiri manusia, ditengah sibuknya manusia, yang membuat manusia lupa membedakan mana yang baik dan mana yang salah, dan yang pasti, kesalahan berlalu begitu saja, tanpa ada kesadaran diri.
Adapun pada bait ke empat, kata air mata dan kedewasaan menjadi simbol kesadaran, manusia pada saat-saat tertentu, misalnya terjadi musibah yang menimpa, yang sangat merugikan, barulah manusia merasakan luka, maka timbul sikap kesadaran akan kesalahan yang di perbuat sehingga terjadi musibah ini, di situlah kadang manusia terlihat dewasa, menyadari kesalahan, kembali bersikap baik, dan mengakui dan merubah kesalahan menjadi kebaikan. bertambahnya umur manusia, semakin hari semakin tua, maka kedewasaan dan kesadaran akan perbuatan buruk yang pernah di perbuat di akui, barulah manusia ingin berubah.
Kata detik pada bait terakhir, sebagai simbol umur manusia semakin hari semakin bertambah, semakin hari manusia semakin tua, maka pada waktu penuaan, barulah manusia terpanggil untuk melakukan kebaikan, karena pengalam hidup yang telah banyak, barulah manuisa dapat mengkaji kebenaran dan keburukan, dan merasakan bahwa kebaikan itu akan berdampak baik di kemudian hari, dan keburukan akan berdampak bururk bagi kehidupan kedepannya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Simbol merupakan sesuatu yang menjadi bahan kiasan dari sebuah ungkapan, contohnya kata tulang pada puisi-puisinya EM Yogiswara, yang mewakili berbagai ungkapan yang memiliki makna yang sesuai. Apalagi dalam puisi Ditulang Belulang Yang Terlanjur Membeku yang banyak memiliki simbol-simbol, tanpa terkecuali kata tulang, yang sebagai simbol kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan didunia.

Daftar Pustaka
Bahan Ajar Mata Kuliah Teori Sastra semester 2 oleh EM Yogiswara
Wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar