Analisis semiotik Karya sastra Puisi ‘ Ditulang
Belulang Yang Terlanjur Membeku’ Karya EM Yogiswara
Nama
: Anju Arwani
NIM
: A1B114016
Kelas
: 2/B Reguler
Prodi
: Pend. Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
No
HP : 08983772493
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
A.
Latar Belakang
Semiotik
(semiotics) berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda atau sign.
Tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif,
mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat
dipikirkan atau dibayangkan (Broadbent, 1980).
A.Teew (1984:
6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian
disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan
aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas
di dalam masyarakat mana pun. Menurut Pradopo (2005: 121), semiotik merupakan
sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian
masyarakat). Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa
satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti konvensional masyarakat. Teori semiotik
tidak terlepas dari kode-kode untuk member makna terhadap tanda yang ada dalam
karya sastra. Kode-kode merupakan objek semiotik sebab kode-kode itu merupakan
sistem-sistem yang mengatasi dan menguasai pengirim dan penerima tanda atau
manusia pada umumnya (Pradopo, 1995: 26).
Teori semiotik
memperhatikan segala faktor yang ikut memainkan peranan dalam komunikasi,
seperti faktor pengirim tanda, penerimaan tanda, dan struktur tanda itu
sendiri. Berdasarkan penjelasan diatas diketahui karya sastra itu merupakan
struktur bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra merupakan sistem tanda
yang mempunyai makna yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa.
Dalam usaha menangkap, memberi, dan memahami makna yang terkandung didalam
karya sastra, pembacalah yang sangat berperan. Karya sastra tidak akan
mempunyai makna tanpa ada pembaca yang memberikan makna kepadanya.
Perkembangan
sastra sekarang ini sangat pesat dan keluar dari kaidah-kaidah penulisan yang
ada. Banyak hal-hal baru yang muncul dan tidak sesuai dengan konvensi-konvensi.
Studi sastra
bersifat semiotik merupakan usaha untuk menganalisis karya sastra, di sini
sajak khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan
konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Dengan
melihat variasi-variasi di dalam struktur sajak atau hubungan dalam (internal)
antara unsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna.
Semiotik
seperti yang diungkapkan oleh Rachmat Djoko Pradopo yaitu bahwa bahasa sebagai
medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu
sistem ketandaan yang mempunyai arti. Medium karya sastra bukanlah bahan yang
bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik ataupun warna pada lukisan. Warna
cat sebelum digunakan dalam lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti
apa-apa sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sastra
sudah merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian
masyarakat (bahasa) atau ditentukan oleh konvensi-konvensi masyarakat.
Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang
mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan
yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat. Sistem
ketandaan itu disebut dengan semiotik. Begitu pula ilmu yang mempelajari sistem
tanda-tanda itu disebut semiotika (2009:121).
BAB II
PEMBAHASAN
‘
Ditulang Belulang Yang Terlanjur Membeku ‘ Karya EM yogiswara, adalah salah
satu puisinya dari sekian puisi yang pada setiap puisinya ada kata tulangnya.
Tidak tahu pasti mengapa beberapa puisinya menggunakan kata tulang, yang pasti
kata tulang berkaitan dengan simbol-simbol kiasan dari pemaknaan sebuah puisi,
dan juga merupakan ciri khas dari pengarangnya. Yang pasti sesuatu yang menurut
pengarang menjadi simbol yang pas untuk mengungkapkan sesuatu, itu berarti
memiliki makna yang sangat dalam, dan kadangkala berkaitan dengan pengalaman kehidupan.
Ditulang Belulang Yang Terlanjur
Membeku
ia
mengamuk pada badai
yang
menyempurnakan derita
di
titik putaran beliungnya
luka
membeku
huruf-huruf
berhamburan mencari nisan
nisan
menanti nama. liang rindu tubuh
tapi
lalai menyiapkan kafan dan wewangian
sebab
perburuan waktu sibuk menyapu debu-debu
di
tulang belulang yang terlanjur membatu
ia
melukai tulang. setiap menit
tanpa
sempat menutup lukanya
tangis
mengejar air mata
seperti
membangun kedewasaan
di
titik retak sungainya rindu menari
mengakhiri
kemelut detik
detik
menusuk tulang
membagi
sumsum hari
di
tiap gemeretak ngilunya
nisan
menanti
Ada sebuah keindahan
yang mendasar di dalam puisi ini, kata tulang yang menjadi simbol sangat
menarik untuk di kaji dari segi semiotik, menggambarka sebuah kehidupan yang
tidak selamanya mulus, kehidupan menyuguhkan berbagai lika-liku yang tak
selamanya baik, yang sebenarnya merupakan sebuah ujian dari yang maha kuasa,
yang menghendaki manusia-manusia di muka bumi ini sadar akan arti sebuah
kehidupan di dunia, seperti dalam bait pertama, badai di simbolkan sebuah
bencana, dan dapat juga kita artikan sebuah kehidupan tidak ada yang selalu
baik, pasti ada tantangan dan rintangan, penderitaan yang menghampiri, dan
adakala rasa putus asa selalu ada di dalam benak, yang membuat manusia merasa
tidak berarti di dalam hidup, merasa tidak ada keadilan di dalam hidup, dan
merasa hidupnya selalu di rundung keburukan, maka dari itu simbol nisan di
sini, mengungkapkan bahwa kehidupan memiliki akhir, namun akhir dari kehidupan
tergantung manusia menyikapinya, jangan sampai akhir kehidupan manusia adalah
akhir yang sia-sia.
Pada bait kedua semakin
memperkuat arti dari kata tulang, kata tulang menjadi simbol bahwa manusia akan
menghampiri maut, manusia akan menghadapi yang namanya kematian, bait kedua
ini, menggambarkan kehidupan manusia yang dalam kehidupan sehari-hari di dunia
ini, sibuk dengan kegiatan duniawi, yang sebenarnya dunia hanya tempat
persinggahan, namun manusia mengekalkan dunia, dunia adalah harta yang
berharga, yang dapat melupakan manusia kan kehidupan akhir yang sebenarnya
lebih fana.dalam bait ini kata kafan dan wewangaian menyimbolkan bahwa manusia
kadang melupakan apa yang seharusnya di lakaukan atau bahkan di persiapkan,
manusia lupa bahwasanya ia akan menghadapi kematian, kematian menuntut prilaku
didunia, berbuat baik di dunia, maka baik pula keadaan di akhiratnya, maka dari
itu, puisi bait kedua ini mengingatkan kepada pembaca, banhwasanya kita sebagai
manuisa, siap-siap menghadpi kematian, jangan sampai pada waktunya, kita tidak
memiliki persiapan apa-apa menghadapi alam selanjutnya.
Pada bait ketiga, yang
pada akhirnya simbol dari tulang, lagi-lagi prilaku manusia yang selalu tidak
sadar akan kesalahan-kesalahannya, perbuatan yang merugikan diri, tak sempat di
sadari dalam diri, dikarenakan lupa bahwasanya ia belum sadar, dan bahkan ia
tidak tahu kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya, itulah sifat yang
kadangkala menghampiri manusia, ditengah sibuknya manusia, yang membuat manusia
lupa membedakan mana yang baik dan mana yang salah, dan yang pasti, kesalahan
berlalu begitu saja, tanpa ada kesadaran diri.
Adapun pada bait ke
empat, kata air mata dan kedewasaan menjadi simbol kesadaran, manusia pada
saat-saat tertentu, misalnya terjadi musibah yang menimpa, yang sangat
merugikan, barulah manusia merasakan luka, maka timbul sikap kesadaran akan
kesalahan yang di perbuat sehingga terjadi musibah ini, di situlah kadang
manusia terlihat dewasa, menyadari kesalahan, kembali bersikap baik, dan
mengakui dan merubah kesalahan menjadi kebaikan. bertambahnya umur manusia,
semakin hari semakin tua, maka kedewasaan dan kesadaran akan perbuatan buruk yang
pernah di perbuat di akui, barulah manusia ingin berubah.
Kata detik pada bait
terakhir, sebagai simbol umur manusia semakin hari semakin bertambah, semakin
hari manusia semakin tua, maka pada waktu penuaan, barulah manusia terpanggil
untuk melakukan kebaikan, karena pengalam hidup yang telah banyak, barulah
manuisa dapat mengkaji kebenaran dan keburukan, dan merasakan bahwa kebaikan
itu akan berdampak baik di kemudian hari, dan keburukan akan berdampak bururk
bagi kehidupan kedepannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Simbol
merupakan sesuatu yang menjadi bahan kiasan dari sebuah ungkapan, contohnya
kata tulang pada puisi-puisinya EM Yogiswara, yang mewakili berbagai ungkapan
yang memiliki makna yang sesuai. Apalagi dalam puisi Ditulang Belulang Yang
Terlanjur Membeku yang banyak memiliki simbol-simbol, tanpa terkecuali kata
tulang, yang sebagai simbol kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan
didunia.
Daftar Pustaka
Bahan
Ajar Mata Kuliah Teori Sastra semester 2 oleh EM Yogiswara
Wikipedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar