Kamis, 25 Juni 2015

Analisis Feminisme



Analisis karya sastra Feminisme puisi Chory Marbawi ‘Dialog seorang Anak Dengan Ibunya Tentang Lukisan Bunga-bunga’
Nama :  Anju Arwani
NIM    :  A1B114016
Kelas   :  2/B Reguler
Prodi   :  Pend. Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
No Hp : 08983772493

Pendahuluan
Latar Belakang
            Feminisme itu sendiri berasal dari kata Feminism (Inggris) yang berarti gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria (Kamus Besar Bahasa Indonesia Cetakan Ketiga) Pengertian feminisme juga dikemukakan oleh Kutha Ratna dalam buku yang , berjudul “Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra” mendefinisikan feminisme secara etimologis berasal dari kata femme (woman), yang berarti perempuan (tunggal) yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial.
Perjuangan feminisme tersebut dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya lewat karya sastra. Dalam karya sastra membicarakan feminisme berarti membicarakan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam perspektif gender.
            Adapun feminisme bertujuan meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki. Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan ini mencakup berbagai cara, salah satunya memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki (Djajanegara, 2000:4).
Kritik sastra feminisme banyak jenisnya, menurut Djajanegara (2000:27:39), ada enam jenis dari kritik sastra feminisme yaitu 1. Kritik ideologis yaitu kritik yang mempertajam pisau analisis feminisme terhadap citra seorang perempuan terhadap karya sastra, juga menganalisis sebab-sebab tidak diperhitungkannya perempuan dalam menciptakan sebuah karya sastra, 2. Kritik yang mengkaji penulis-penulis wanita yaitu kajian yang dipusatkan pada analisis sejarah para sastrawan perempuan, tema yang dangkat dalam karya sastra, genre dan struktur penulisan.
3. kritik feminisme sosial mengkaji para tokoh perempuan yang terdapat dalam sebuah karya sastra, dilihat dari sudut pandang kelas sosial dan kedudukan dalam keluarga. 4. Kritk feminis-psikoanalisis meneliti karya para perempuan, kritik ini di terapkan pada tulisan-tulisan wanita karena para feminis percaya bahwa pembaca wanita mengidentifikasikan dirinya pada posisi tokoh wanita. 5. Kritik feminisme lesbian hanya mengkaji penulis perempuan saja, namun masih terbatas karena beberapa factor yaitu. Pertama, para feminis pada umumnya tidak menyukai kelompok perempuan homoseksual dan memandang mereka sebagai feminis radikal, kedua, waktu tulisan-tulisan tentang perempuan bermunculan pada tahun 1979-an. Jurnal-jurnal perempuan tidak ada menulis tentang lesbianism. Ketiga, kaum lebian belum mampu mencapai kesepakatan tentang definisi lesbian, keempat, disebabkan sikap antipasti para feminis dan masyarakat, penulis lesbian terpaksa dalam bahasa yang terselubung serta menggunakan lambing-lambang, disamping menyensor sendiri. 6. Kritik feminis etnik dan ras tentang perbedaan warna kulit, yang saat ini kelompok yang memiliki warna kulit hitam di deskriminasi.
Pembahasan
            Dialog Seorang Anak Dengan Ibunya Tentang Lukisan Bunga-Bunga
‘’ Apakah rumah ini masih menyimpan cinta ,’’
Tanya soerang anak kepada ibunya.

Di sudut ruangan, seorang anak merangkul
kedua kakinya yang telanjang
kemudian dengan perlahan air mata membasuh telapak kakinya
‘’Apakah masih tersimpan keindahan di rumah ini?       
Masih ku ingat lukisan bunga di dindingnya tertata menjadi bahagia’’

‘’ ibumu tak sempat lagi menciumi rumah ini
dengan lukisan bunga-bunga,’’ jawab ibunya yang tertunduk
lesu dengan suara parau di atas ranjang yang kemarin
di sulam dari benang berwarna

‘’ Kemana ayah menyimpan lukisan itu
yang katanya akan dihadiahkan untukku’’

‘’ lukisan itu telah dibuangnya, anakku’’

Telapak kakinya kaku membatu.
            Puisi diatas ialah puisi dari Chory Marbawi penyair Jambi yang sekilas yang saya tangkap kemudian dapat saya simpulkan sekaligus sebagai analisis yang berkenaan dengan karya sastra dari segi feminisme yang di bahas, puisi ini menceritakan seorang anak yang bertanya tentang lukisan kebahagiaan yang akan dihadiahkan olehnya kepada ibunya, namun lukisan itu telah dibuang oleh ayahnya, hal itu membuat si anak tidak merasakan cinta dan kasih sayang dirumah, entah apa arti dari sebuah lukisan yang memberikan sebuah kebahagia di dalam keluarga, mungkin lukisan sebagai simbol kebahagiaan yang menjadi kenangan dan sejarah, bahwa kebahagiaan yang dialami selama ini tidak tergambar lagi di dalam rumah, si anak merindukan akan hal tersebut yang biasanya merasakan kebahagiaan di rumah, namun setelah ia pulang ia tidak mendapatkan kebahagiaan lagi, hanya mendapati seorang ibu yang terbaring lemah di atas ranjang, ada sebuah perubahan yang berarti di dalam keluarga, feminism di dalam puisi ini hanya membahas tentang seorang perempuan atau ibu di dalam ruang lingkup keluarga saja, namun kajian feminism dalam puisi ini sangat menarik untuk di kaji, karna ada beberapa hal yang menarik untuk di bahas, salah satunya adalah menurut saya dalam puisi ini, sosok seorang ibu sangat bertentangan dengan konsep feminism itu sendiri, dimana seorang ibu di dalam puisi ini tidak menggambarkan atau mencerminkan seorang wanita yang kuat dan memperjuangkan kaum wanita, dalam puisi ini terkesan adanya kelemahan yang di munculkan di dalam isi dari puisi ini.
            Dalam puisi ini, gaya feminisme tidak mendukung dengan karakter ibu yang tergambar, karakter ibu sangat bertolak belakang dengan faham feminisme, faham feminisme menuntut adanya kekuatan dari seorang perempuan, mengangkat harkat dan martabat perempuan, menyamakan derajat laki-laki dengan perempuan. Tokoh ibu di dalam puisi ini menggambarkan seorang ibu rumah tangga yang lemah, hanya bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada kesan seorang wanita yang tegas dan memiiki karakter feminism, hanya pasrah akan keadaan yang terjadi, mungkin yang menjadi alasan seorang ibu terkesan lemah ialah dalam kondisi sakit, tergambar pada baris jawab ibunya yang tertunduk lesu dengan suara parau diatas ranjang yang kemarin di sulam dari benang berwarna. Hal tersebutlah yang membuat puisi ini terkesan kurang ada nya feminisme dari tokoh ibu. Faktor lain dari segi pengarang yang mungkin dalam puisi ini mengutamakan segi kehidupan dalam keluarga, menggambarkan konflik dalam keluarga, bukan menggambarkan segi feminism.
            Puisi ini tidak menfokuskan pembahasan isinya dari segi feminism, hanya ada sedikit kaitan dengan segi feminism, namun apa yang di gambarkan setidaknya memberikan sesuatu pembelajaran baru dari isi puisi ini, yang secara tidak langsung juga berkenaan dengan konsep feminism, puisi ini menekankan kehidupan dalam kehidupan keluarga sehari-hari, dimana ada cerita yang ingin di sampaikan yang memiliki makna yang mendalam, yang dapat memberikan efek sadar akan arti dari kehidupan dalam keluarga, peran ibu dalam keluarga, dan peran-peran anggota dalam keluarga yang baik.
            Dilihat dari segi lain, ibu di dalam puisi ini menggambarkan ibu yang tegar walaupun lemah, mungkin disinilah letak feminisme dari puisi ini, namun secara kasat mata tidak tergambar sama sekali faham feminism, hanya saja pada saat membaca dan ingin mengaitkan serta ingin menganalisis puisi ini, ternyata cukup menarik.
            Feminisme yang tergambar mungkin pengarang lebih mengetahui pasti dimana letak feminismenya, dilihat dari seorang ibu yang sabar, yang masih menunggu anaknya pulang, disitu menurut saya juga berkaitan dengan feminism seorang perempuan, karena menurut saya feminisme bukan hanya dilihat dari kesamaan antara laki-laki dan perempuan, melainkan juga dapat dilihat dari kesabaran dan kelembutan seorang perempuan.
            Dari segi lain isi dari puisi ini, lebih menfokuskan penggambaran kehidupan atau peristiwa dalam sebuah keluarga, dimana ada anak, ibu, dan bapak yang sering kali mengalami konflik dalam keluarga, baik konflik kecil maupun besar, semuanya tidak dapat dihindari lagi, semua keluarga pasti pernah mengalami konflik dalam keluarga, nah, seorang ibu lah yang berperan di dalam kehidupan keluarga, ibu kerap kali sebagai pelerai konflik dalam keluarga, banyak peran yang diperankan seorang ibu di dalam keluarga, ibu sebagai penasihat untuk anak-anaknya, mengajarkan kebaikan untuk anak-anaknya, menjadi istri yang baik bagi suaminya, hal tersebut mengaitkan ibu rumah tangga juga merupakan penggerak faham feminisme, dimana ada kekuatan yang lembut di balik kelemahan seorang ibu.




Penutup
Kesimpulan
            Bahwasanya kajian feminism puisi Dialog Seorang Anak Dengan Ibunya Tentang Lukisan Bunga-Bunga menggambarkan kehidupan keluarga namun sangat menarik untuk dianalisis dari segi feminism, ada hal-hal yang menurut saya berkaitan dengan teori feminism, walaupun secara umum bertentangan dengan paham feminism.
            Dalam puisi ini mencerminkan seorang perempuan dari segi kelembutan dan ketegaran, bukan perempuan yang tegas dan kuat, namun menurut saya ada kesamaan dalam hal menghadapi sebuah masalah, masalah dalam keluarga.

Daftar Pustaka
Bahan Ajar Mata Kuliah Teori Sastra semester 2 oleh EM Yogiswara
Wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar